Rabu, 25 Februari 2009
MAHASISWA: Sosok yang Unik
Potensi besar tersebut akan lebih terlihat lagi dalam sosok ‘mahasiswa’...! Sosok yang begitu unik. Sangat unik sekali. Pada masa-masa sekolahan, mereka sangat lugu dan kalem. Sekarang, mereka mempunyai semangat menggebu-gebu dan terlihat sangat jelas sekali. Jika dahulu, secara psikilogis mereka tergantung kepada orang tua, guru, dan sebagainya, sekarang mereka “merasa” independent. Merdeka!
Mereka mengagungkan kebebasan yang mereka dapatkan, tepatnya yang baru mereka dapatkan. Mereka mencoba segala hal. “Berfikirnya sekali saja” kata H. Rhoma Irama. Gelora semangat menuntun mereka untuk berbuat apa yang mereka mau dan apa yang mereka inginkan dan terkadang tidak memperhatikan efek perbuatannya itu, baik untuk dirinya pribadi, keluarga, maupun orang lain.
Pada masa itu, mereka juga sudah berani menentukan ideologi sendiri. “Dengan proses yang cukup panjang”, menurut mereka, “aku pilihlah jalan hidupku yang begini atau begitu”. Mereka mulai berani menentukan pilihan hidup. Pokoknya “bebas untuk ngapain aja!”
Kondisi yang demikian, tidak jarang yang menjadi kebablasan bagi sebagian pemuda, bahkan mungkin mayoritas. Kebebasan yang baru mereka dapatkan membuat mereka terlena akan tugas mereka yang sebenarnya. “Merdeka dari orang tua”, menurut mereka. “Merdeka dari guru, merdeka dari aturan, toh dosen aja gak ambil pusing, apalagi orang tua jauh di rumah!!!” suara hati mereka. Mereka menghabiskan waktu bersama teman-teman seideologi. Kongko-kongko gak jelas, hal yang rutin (meskipun mereka menyadari itu). Tapi apa boleh buat, yang penting asik.
Ironisnya lagi, tak jarang kebebasan tersebut menggiring mereka kepada hal yang sangat mengerikan. Narkoba dan minuman keras contohnya. Betapa banyaknya mahasiswa yang terjerat dengan ini. Dan semuanya tentu berawal dari coba-coba. Coba-coba ini pun merupakan kesalahan dalam mengontrol kebebasan yang baru saja mereka miliki. Begitu juga dengan freesex. Di beberapa tempat, ditemukan jarak pergaulan muda-mudi yang begitu tipis dan tentunya ini sangat rawan. Bukankah begitu?
Mahasiswa merasa memiliki semuanya. Mereka berani berorasi dengan nada sarat cacian terhadap pemimpin negeri. Mereka menggugat birokrasi yang, masih menurut mereka, amburadul. Mereka meneriakkan suara rakyat, suara ketertindasan, ratapan anak jalanan, tangisan balita kurang gizi, rendahnya pendidikan anak negeri, dan sebagainya. Orasi-orasi mereka—sekali lagi, menurut mereka—menciptakan pencerahan bagi ibu pertiwi (meski tidak dipungkiri runtuhnya orde baru salah satunya disebabkan demonstrasi mahasiswa). Seolah mereka mampu memperbaiki dan menjamin kesejahtaraan rakyat negeri ini sebagaimana yang mereka gembor-gemborkan. Padahal, jika sesaat setelah mereka berorasi, tampuk kekuasaan negeri jatuh ke tangan mereka, mereka juga tidak mampu menjalani apa yang sebelumnya mereka orasikan, dan mereka pun tentu menyadari hal ini (jika mereka memikirkannya). Namun, di sisi lain tugas utama mereka justru dilupakan, belajar...!
Namun, tak jarang juga yang bisa memanfaatkan kebebasan mereka dengan baik. Tanpa mengenyampingkan kewajiban mereka sesungguhnya, mereka menjalani aktifitas yang bermanfaat. Mereka tidak larut dalam organisasi. Mereka bisa membagi waktu yang pas antara kewajiban-kewajiban primer, sekunder, dan aktifitas-aktifitas tambahan lainnya. Disiplin, menjadi kunci mereka. Pendidikan lancar, aktifitas bermanfaat.
Meski ikut demonstrasi dan gerakan-gerakan kepemudaan lainnya, mereka tetap mempunyai skala prioritas yang komitmen. Kemerdekaan mereka maknai dengan baik, bukan berarti melupakan orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Semangat yang menggelora diarahkan ke arah yang positif, bukan hanya gembar-gembor sana-sini secara berlebihan tanpa mempertimbangkan maksud, tujuan, serta manfaatnya. Kehidupan juga ditarik menjauhi gemerlap dunia malam muda-mudi yang sarat narkoba, miras, dan freesex. Mereka mempunyai orientasi masa depan yang jelas. Dan sepertinya, pemuda seperti inilah sepertinya yang dibutukan Soekarno untuk menguasai dunia.
Begitulah mahasiswa yang tampil dalam masyarakat Indonesia saat ini. Mereka tumbuh seolah sebagai suatu entitas tersendiri. Mereka berbeda, begitu berbeda. Mereka kelihatan mencolok dan menarik untuk diperhatikan. Kebanyakan orang lainnya juga punya semangat, tapi tetap saja berbeda. Semua orang mempunyai kemerdekaan dan HAM, sekali lagi, masih berbeda! Mereka ada dimana-mana. Cobalah untuk sedikit iseng memperhatikan suatu organisasi yang beranggotakan berbagai orang dari berbagai kalangan. Di dalamnya terdapat anak-anak, pemuda (baca: mahasiswa), bapak-bapak, pokoknya masyarakat dari segala tingkat umur. Siapa di antara mereka yang begitu kelihatan? Siapa di antara mereka yang menjadi pusat perhatian. Mungkin pimpinan organisasi itu adalah kaum tua, tapi tetap saja, yang menjadi figurnya siapa? Masih, pemuda (mahasiswa)...!!!
Berhati-hatilah mahasiswa...!
Berbanggalah mahasiswa...!
Bergembiralah calon mahasiswa...!
Berhati-hatilah calon mahasiswa...!
Sabtu, 14 Februari 2009
ANTARA AKAL DAN WAHYU
Semenjak dahulu, akal dan agama memang dua hal yang memberi kekuatan besar kepada seseorang. Jika kita kembali menilik sejarah, beberapa orang rela disiksa karena mempertahankan keyakinan agamanya. Bilal bin Rabbah sebagai contohnya. Ia mempertahankan agamanya meskipun ditindih dengan batu panas di gurun yang tentunya juga sangat panas. Mengapa ia mau? Karena ia kuat? Mengapa ia kuat? Karena ia memiliki agama.
Di samping itu, sejarang telah mencatat ada orang yang rela mati karena mempertahankan hasil dari kerja keras akalnya. Sokrates umpamanya. Ia berhasil merumuskan suatu pengetahuan universal demi melawan kaum sophis yang mengangkatkan issue relativitas ke hadapan pemuda terpelajar . Ia dituduh merusak pemikiran masyarakat dan dihukum mati, dan ia menerima meskipun kesempatan untuk lari ada. Mengapa ia berani? Masih, karena ia kuat. Dan mengapa ia kuat? Karena ia mempunyai akal.
Tak dipungkiri lagi, akal dan agama hal yang mewarnai dunia. Namun, perjalanan keduanya tidak selalu berbarengan menemani manusia. Manusia, dalam memahami keduanya, telah melakukan perdebatan panjang menganai keduanya. Suatu saat, akal mendominasi dan agama kalah total. Dan jika agama menang dan akal ditinggalkan. Tapi, keduanya berposisi seimbang juga pernah ada.
Di dunia Islam, perdebatan ini terjadi di kalangan para teolog. Kaum Mu’tazilah memberi penghormatan tertinggi kepada akal. Dengan akal semata, menurut mereka, manusia bisa menentukan baik dan buruk sesuatu perkara. Namun, di lain pihak, paham Asy’ariyyah menolaknya. Mereka mengedepankan wahyu, sehingga hanya dengan wahyulah manusia mendapatkan berita mengenai hal yang baik dan buruk. Akal, dalam pandangan mereka, tidak mampu mencapai hal tersebut.
Di dunia barat, perdebatan seperti ini juga terjadi. Parminedes, Heraclitus, Zeno, dan para filosof kuno lainnya berpendapat bahwa kebenaran itu terletak pada akal manusia. Manusia merupakan tolok ukur baik dan benarnya sesuatu, sehingga tidak ada kebenaran yang universal, semuanya relatif. Pemahaman seperti ini menjadikan pemuda terpelajar waktu itu meragukan kebenaran agama yang universal, yang ada adalah kebenaran relatif. Namun, dihadapkan dengan hal itu, Socrates, Plato, dan Aristoteles mengkritik dan berhasil mematahkan argumen mereka. Mereka membuktikan kebenaran universal itu ada. Mereka berhasil mengangkat kembali derajat agama. Saat itu, agama dan akal berjalan berbarengan. Pada abad pertengahan, agama pun mulai mendominasi. Anselmus mengeluarkan faham “beriman dulu untuk mengerti”. Pada zaman itu, agama menang total, sehingga akal tidak lagi mendapatkan tempat. Gereja mendominasi kehidupan dunia, siapa yang menentangnya, akan mendapatkan hukuman hingga hukum mati. Hingga akhirnya tampillah Descartes yang melepaskan kungkungan agama. Ia berhasil mengangkat derajat akal. Hasilnya, tak ayal lagi, agama kembali direndahkan. Hingga datanglah Kant yang mampu mengangkatnya kembali, hingga keduanya berdampingan kembali.
Perdebatan Toelogis
Teologi merupakan suatu diskursus yang membahas tentang ketuhanan dan kewajiban manusia terhadap-Nya. Cabang ilmu ini menggunakan media akal dan juga wahyu. Manusia, dengan akalnya, berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan. Di samping itu, wahyu turun sebagai petunjuk dari Tuhan dalam rangka pencarian manusia tersebut. Namun, timbul suatu polemik; sejauh mana kemampuan akal mengetahui Tuhan? Mampukah akal mengetahui kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan? Bagaimanakah fungsi wahyu dalam hal ini?
Pada perdebatan teologis mengenai akal dan wahyu ini melibatkan berbagai aliran; Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Maturidiyyah. Persoalan ini berikutnya bertitik tolak kepada empat persoalan; mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan buruk, dan kewajiban mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Keempat permasalahan tersebut diperdebatkan, yang manakah yang diketahui dengan akal, dan yang mana dengan informasi dari wahyu.
Mu’tazilah, yang memberikan penghargaan yang sangat besar kepada akal berpendapat bahwa semua permasalahan di atas dapat diketahui dengan akal. Akal manusia dapat mengetahui adanya Tuhan. Dengan segala perbuatan baik Tuhan kepada manusia, manusia juga mengetahui bahwa ia wajib berterima kasih kepada-Nya, manusia wajib beribadah kepada Tuhan. Akal manusia juga sangat mumpuni untuk mengetahui suatu perbuatan memiliki value baik atau buruk. Dengan begitu, akal sehat manusia sudah pasti mendorong, atau dengan kata lain ‘mewajibkan’ tuannya untuk melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Di lain pihak, Asy’ariyyah tidak setuju dengan argumen yang disampaikan rivalnya, Mu’tazilah. Mereka berpendapat, memang akal mampu mengetahui Tuhan. Namun, akal manusia tidak dapat mengetahui kewajiban kepada Tuhan. Akal manusia tidak dapat mewajibkan tuannya untuk melakukan sesuatu. Akal manusia juga tidak dapat mengetahui bahwa yang berbuat baik mendapatkan pahala dan yang buruk mendapatkan dosa. Kewajiban-kewajiban tersebut didapati melalui informasi wahyu. Akal manusia juga tidak mampu mengetahui hal yang baik dan buruk. Baik buruknya sesuatu digariskan oleh wahyu. Berarti, manusia juga tidak diwajibkan melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kecuali oleh wahyu. Pada kondisi ini, terlihatlah bahwa Asy’ariyyah memberikan porsi yang sangat besar kepada wahyu dan mempersempit peranan akal dalam semua permasalahan di atas.
Adapun Maturidiyyah, pada perkembangannya terbagi menjadi dua aliran, Samarkand dan Bukhara. Golongan Samarkand berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui baik dan buruk dengan akalnya. Akal manusia juga mampu mengetahui Tuhan dan kewajiban manusia terhadap-Nya. Namun, kewajiban untuk berbuat baik dan meninggalkan yang buruk hanyalah diketahui manusia dengan wahyu. Sementara golongan Bukhara berpendapat bahwa akal manusia hanya mampu mengetaui adanya Tuhan serta nilai baik dan buruk. Sementara dalam konteks kewajiban, baik kewajiban terhadap Tuhan maupun berbuat baik dan meninggalkan yang buruk hanyalah diketahui melalui informasi wahyu.
Perdebatan Hukum
Hukum disepakati sebagai titah ilahi. Sebagai titah ilahi ia bersifat qadim dan mendaului manusia. Konsekuensinya, manusia tidaklah membuat hukum, melainkan hanya menemukannya saja. Dari sini timbul suatu polemik. Bagaimana Allah memanifestasikan hukum-Nya yang qadim tersebut kepada manusia?
Pada kajian Ushul Fiqh, pembahasan ini dikaitkan dengan teori etika. Hukum mengikuti nilai pada hukum etika. Suatu yang dinilai baik, diperintah oleh hukum, dan yang buruk, dilarang oleh hukum. untuk mengetahui nilai etika itu, pembahasannya menjurus kepada konsep baik dan buruk.
Kajian ini berkaitan erat dengan perdebatan teologis di atas. Pada aspek ini, terdapat dua konsep yang berbeda; tradisionalis dan rasionalis. Konsep tradisionalis berpendapat bahwa suatu itu dinilai baik atau buruk sesuai dengan tuntunan wahyu. Jika suatu perbuatan dinyatakan wahyu sebagai perbuatan baik, maka ia baik, dan jika tidak maka tidak. Mengenai perbuatan yang tidak digariskan oleh wahyu, penyimpulan baik atau buruknya didapatkan dengan jalan analogi (qiyas).
Sementara kaum rasionalis berpendapat bahwa nilai baik dan buruk sudah terdapat secara inheren dalam suatu perkara semenjak awalnya. Pada hakikatnya, suatu pekerjaan dipandang baik jika ia mempunyai nilai baik yang inheren pada dirinya, dan sebaliknya. Konsepsi ini meskipun wahyu tidak menjelaskannya. Menurut mereka, kalaupun wahyu tidak menjelaskan mencuri itu buruk dan harus ditinggalkan, dengan nilai yang sudah terkandung di dalamnya, manusia dapat menyimpulkan bahwa mencuri itu buruk. Bagi mereka, wahyu berfungsi sebagai penguat dari kesimpulan manusia tersebut.
Jadi, memang terbukti bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak terlepas dari warna yang diberikan akal dan agama atau dalam hal ini wahyu. Kehidupan manusia berjalan lancar dengan keduanya. Manusia mencapai kebahagiaan hidup dengan kepercayaan dan pengamalan keduanya. Namun, dalam perjalanannya, akal dan agama terkadang mendapatkan porsi yang timpang. Suatu saat akal mendominasi dan agama kehilangan perannya. Dan suatu ketika, agam menang mutlak, dan manusia tidak diperkenankan menggunakan akalnya secara luas.
Jumat, 13 Februari 2009
Rasulullah; Manusia Paling Cerdas di Dunia
Jika ada segelintir manusia mengklaim bahwa Rasullullah saw bodoh lantaran tidak bisa tulis baca, maka pernyataan tersebut salah besar. Memang, pada zaman ini, orang yang tidak mampu tulis baca merupakan orang terbelakang dalam bidang pendidikan. Dan hal ini identik dengan kebodohan. Betapa sekarang ini kehidupan tidak terpisahkan lagi dengan tulisan. Setiap hari dilalui penuh dengan rangkaian bacaan, dimana dan kapan saja. Tulisan menjadi entitas yang sangat krusial dalam kehidupan ini. Jadi sangatlah naif orang yang tidak bisa tulis baca.
Namun, tidak begitu dengan zaman Rasulullah. Kecerdasan seseorang tidak diukur dengan kemampuan tulis baca. Baca tulis bukanlah tolok ukur pintarnya seseorang. Tulisan bukanlah hal yang urgen masa itu. Tanpa kemampuan tulis baca pun, manusia bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Tulis baca sama sekali tidak berpengaruh kepada integritas dan kredibilitas manusia pada masa itu.
Meskipun demikian, suatu konsepsi yang menyatakan bahwa Zaman Jahiliah merupakan zaman kebodohan, juga tidak tepat. Kata ‘jahiliah’ tidak menjurus ke segi intelektual seseorang. Term jahiliah itu, lebih mengarah kepada kebobrokan moralitas. Perdagangan mereka dipenuhi dengan riba. Persaingan antar suku tak lepas dari perang. Perzinahan merupakan hal yang biasa. Yang kuat berkuasa dan menindas yang lemah. Namun daripada itu, mereka itu bukanlah bodoh.
Peradaban Hijaz (Makkah dan Madinah) merupakan peradaban yang disegani pada masa itu. peradaban Hijaz bukanlah bagian dari hegemoni dua kerajaan besar; Sasaniah dan Romawi. Hegemoni keduanya mencakup segala aspek, dari politik, ekonomi, sosial, hingga agama. Mereka berlomba-lomba melakukan ekspansi dan mencipatakan pengaruh. Mereka melakukan penindasan yang tidak berperikemanusiaan di daerah kekuasaan masing-masing. Hijaz, yang terletak di antara keduanya terlepas dari pengaruh keduanya. Posisinya yang strategis, di jalur perdagangan antara keduanya, implikasi baik dalam aspek ekonomi hijaz. Terbukti dengan adanya pasar ‘Ukkaz’ yang didatangi pedagang dari seluruh penjuru. Pada sisi ini, terbuktilah kecerdasan dan kemajuan peradaban Hijaz pra Islam.
Rasulullah diutus dalam kondisi yang sedemikian. Beliau lahir di tengah masyarakat yang terbilang maju dari segi peradaban dan intelektualitas, namun terpuruk dalam segi moral dan spiritual. Namun, beliau berhasil memperjuangkan revolusi ‘Islam’ di sana. Menghadapi tekanan dan boikot dari penduduk tanah kelahirannya. Tapi, kita lihat hasilnya; beliau BERHASIL. Dalam kurun yang cukup singkat, 23 tahun, beliau berhasil merubah moral sebagian besar masyarakat Arab 180 derajat. Siapa di dunia ini yang mampu melakukan ini selain beliau? Dalam hal ini, terbukti Rasulullah sangatlah cerdas dari segala aspek.
Disamping bukti makro di atas, juga terdapat beberapa bukti mikro yang dapat dijadikan justifikasi kecerdasan Rasulullah. Malaikat Jibril membacakan wahyu kepada Beliau hanya sekali, dan beliau mampu menghafalnya dalam waktu singkat. Perhatikan juga kisah pemindahan Hajar Aswad sesaat setelah renovasi Ka’bah dari banjir bandang. Siapa yang meluruskan dan mencegah pertikaian yang hampir saja mengarah kepada perang? Rasulullah! Siapa menduga beliau mempunyai kebijakan yang sangat sempurna. Hanya dengan media sehelai sorban, puluhan dan bahkan ratusan pedang dan anak panah tidak jadi beradu, dan darah tidak jadi tertumpah.
Jadi, Rasulullah memang ummiy. Beliau memang tidak mampu tulis baca. Namun, bukan berarti beliau bodoh. Ummiy Rasulullah tidak lain sebagai bukti otentisitas dan kebenaran Alquran merupakan wahyu Allah dan bukan kreasi dan imajinasi Rasulullah. Nabi Muhammad saw merupakan orang yang paling cerdas yang pernah ada. Bukti-bukti di atas, sangatlah cukup. Bayangkanlah, seorang non-muslim yang mengkategori pemimpin-pemimpin terbaik dunia, menempatkan Rasulullah, yang bernotabene rasul umat Islam, pada urutan pertama. Semua mengakui kecerdasan Rasulullah, dan memang begitu seharusnya.
Selasa, 13 Januari 2009
Ritual Seks Gunung Kemungkus Perspektif Living Qur’an
Sebagaimana yang disampaikan M. Mansur, fenomena ini bermula dari Quran in everyday life. Objek pembahasannya adalah praktek-praktek tertentu terhadap teks Alquran dalam kehidupan praksis. Pernyataan tersebut menegaskan bahwasanya Living Qur’an telah terjadi semenjak Alquran itu sendiri ada.
Studi Living Qur’an merupakan studi sosial dan keragamannya yang berasal dari pemahaman dan respon manusia terhadapnya. Studi ini merupakan studi ilmiah murni yang berbeda dengan studi-studi yang dilakukan para ulama klasik yang lebih memusatkan kajian mereka kepada aspek internal dari Alquran.
Manusia sebagai makhluk yang kreatif dan inovatif selalu berbeda satu sama lainnya. Perbedaan tersebut meliputi segala hal, mulai dari pola fikir, watak, tingkah laku, dialek, kepribadian, kecenderungan, dan sebagainya. Di saat dihadapkan dengan suatu perkara, mereka juga akan menghasilkan respon yang berbeda-beda, terlebih lagi jika telah terkontaminasi oleh pengaruh sosio-kultural masing-masing yang juga berbeda. Begitu juga dengan Alquran, di saat dihadapkan kepada manusia yang beragam akan menghasilkan respon, penafsiran, dan pemahaman yang berbeda-beda. Seorang ulama mengibaratkan Alquran sebagai sebuah permata dengan banyak sudut. Ia akan menghasilkan warna dan pantulan cahaya yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut yang berbeda. Dari proses dialektis antara manusia dan Alquran inilah lahir fenomena Living Qur’an.
Salah satu contoh adalah “Ritual Seks Gunung Kemungkus”. Pada dasarnya, ritual tersebut merupakan penerapan konsep tabarruk dan tawassul yang sebenarnya masih debatable, dibenarkan dan dibolehkan oleh sebagian ulama, dan dilarang menurut sebagian lain. Konsep tabarruk dan tawassul tersebut berdialog dengan kehidupan kapitalis manusia, sehingga terlaksanalah berbagai macam kegiatan ber-tawassul dan tabarruk seperti ritual gunung Kemungkus ini.
Beberapa proses yang dijalani saat melaksanakan ritual ini yaitu: (1) Mengambil air dari dua sumber air yang berbeda. Pertama, di Sendang Ontrowulan yang nantinya dibawa pulang karena dianggap membawa berkah. Kedua, air di Sendang Taruna yang nantinya akan digunakan untuk bersuci setelah melakukan ritual seks. Masing-masing air tersebut dido'akan terlebih dahulu oleh juru kunci masing-masing sendang. Doa-doa tersebut tidak berbeda dengan doa yang lazimnya dibaca selepas shalat atau pada kesempatan lainnya yang sudah pasti sebagian besar merupakan teks Alquran. (2) Berdo'a di makam Raden Samudra. Banyak versi cerita yang dapat kita temui tentang kisah Raden Samudra ini. Ia adalah Putra Majapahit atau Putra Demak dalam mitos lainnya yang jatuh cinta kepada ibu tirinya sehingga akhirnya terjadinya hubungan seks antara keduanya. Dan (3) Melakukan ritual seks sebagai syarat terkabulnya keinginan. Ritual ini sepertinya berawal dari kisah perselingkuhan Raden Samudra dengan ibu tirinya, sehingga dalam ritual ini, hubungan seks pun harus dilakukan bukan dengan pasangan resmi.
Namun, ada suatu kejanggalan dari ritual ini. Menurut sebagian ulama, Islam dan Alquran membolehkan seorang muslim meminta berkah (tabarruk) kepada seorang kyai, syeikh, atau orang yang dipandang alim dan dekat dengan Allah swt serta terjauh dari perbuatan terlarang. Akan tetapi faktanya, pada ritual seks gunung Kemungkus ini justru kepada seorang Pangeran Samudra, yang konon memiliki hubungan terlarang dengan ibu tirinya. Dan hal ini jelas melanggar aturan doktrin Islam. Tapi hal ini bukanlah suatu permasalahan dalam kajian ilmu antropologi yang tidak mencari justifikasi benar atau salah suatu fenomena.
Sebagaimana modusnya, ritual seks ini diyakini dapat menjawab beberapa kebutuhan manusia, seperti masalah ekonomi, kenaikan pangkat, jodoh, dan sebagainya. Fenomena ini sangat menarik sekali, ia berhasil menjadi suatu aset berharga bagi pemerintah daerah. Banyaknya masyarakat yang meyakini ritual ini, menjadikan wilayah gunung kemungkus ini terlihat ramai pada malam-malam tertentu. Hal ini dimanfaatkan pemerintah setempat untuk dijadikan daerah pariwisata. Wisata ziarah ini menghasilkan aset sebesar 170 juta pertahunnya bagi daerah. Di samping itu, masyarakat sekitar juga mendapatkan lahan pekerjaan dengan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan para peziarah, mulai dari kembang-kembang, penginapan dan sebagianya guna memberikan kenyamanan para peziarah. Bahkan mucikari dan PSK pun dapat tersenyum karenanya.
Begitulah fakta menarik dalam agama Islam seputar pengamalan Alquran. Meskipun telah digariskan konsep baik buruk dan mempunyai sistem nilai evaluatif dan afirmatif, tetap dihadapkan kepada pengamalan yang sangat beragam sejalan dengan beragamnya kondisi sosio-kultural dan pola fikir masyarakat. Dan tidak jarang pengamalan tersebut teraplikasikan sebagai suatu hal yang bertentangan dengan ajarannya sekalipun.
SYAFI’IYYAH dan MUTAKALLIM
Namun, di dalam buku REFORMASI BERMAZHAB terdapat kritikan terhadap pengelompokan sebagaimana di atas. Yang menjadi objek kritik tersebut adalah pengelompokan Syafi’i dengan mutakallim. Karena, Syafi’i adalah sosok yang tidak sepaham dengan mutakallim yang beraliran mu’tazilah. Dia dengan jelas menentang pemikiran mereka. Al-Risalah itu sendiri merupakan salah satu misinya untuk menentang mereka. Jadi, mengapa Syafi’i justru disamakan dengan kelommpok yang ditentangnya? Begitulah gambaran singkat yang dikutip dari buku tersebut.
Mengenai permasalahan ini, sangatlah perlu untuk mengkaji bagaimanakah sejarah ushul fiqh Imam Syafi’i itu sendiri. Nama lengkap beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Ia mencoba mengambil jalan tengah dari dua kecenderungan yang dilatarbelakangi oleh faktor tempat dan kuantitas hadits yang didapat para ulama yang berkembang pada zamannya, ahl al-ra’yi dan ahl al-hadits. Ia tidak hanya terpaku kepada hadits, namun juga memberi andil kepada akal dalam penyimpulan suatu hukum. Ia memformulasikan ushul fiqh dari diskusi-diskusi ilmiah para pendahulunya semenjak masa sahabat. Sumber hukum menurutnya adalah secara berurutan dari al-Quran, sunnah, ijma’, dan qiyas.
Formulasi ushul fiqh yang dirintis oleh Syafi’i, berkembang pesat dan diikuti banyak umat Islam. Dalam perkembangannya, terdapat berbagai perbedaan pandangan dari ulama berikutnya. Ada yang memasukkan teori-teori yang tidak dipakai Syafi’i. Sebagian lain ada yang menyalahinya dalam pokok-pokok ushul fiqh dan mengikuti cabang-cabangnya.
Di antara yang menggunakan formulasi Syafi’i ini adalah ulama mutakallim. Sebagian besar mutakallim termasuk kepada aliran Syafi’iyyah ini. Hal ini dilatar belakangi kesamaan model kajian Syafi’iyyah dalam menetapkan hukum dengan kajian mereka dalam ilmu kalam. Tampaknya, hal inilah yang mendorong ulama mengelompokkan aliran Syafi’iyyah dengan mutakallim dalam satu golongan.
Menimbang kritik dari buku REFORMASI BERMAZHAB tersebut, tampaknya memang tidak bijaksana untuk menggolongkan Syafi’iyyah kepada mutakallim. Karena sebenarnya mereka itu mempunyai objek pembahasan yang berbeda, hanya saja punya metode kajian yang sama. Dan dalam kajian ushul fiqh sendiri, mutakallim hanya mengikuti apa yang telah diformulasikan oleh Syafi’i. Jadi, lebih baik jika aliran tersebut cukup disebut sebagai aliran Syafi’i saja tanpa membawa nama mutakallim. Hal ini seandainya mereka tidak mengembangkan ushul fiqh Syafi’i sehingga memiliki perbedaan yang mencolok. Ketika perubahan yang mereka ciptakan akibat proses pengembangannya cukup besar, mengapa mereka tidak dikelompokkan menjadi otonom dan terpisah dari Syafi’i maupun fuqaha?
Referensi :
1. Reformasi Bermazhab karya Qadri Azizi
2. Ushul Fiqh karya Muhammad Azzahra
3. Ushul Fiqh Jilid 1 karangan Amir Syarifuddin
BAHASA AGAMA
Merumuskan definisi bahasa agama bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, digunakanlah dua pendekatan yang menonjol dalam kajian ini, theo-oriented dan antro-oriented. Pada pendekatan pertama, bahasa agama adalah kalam Tuhan yang terabadikan dalam kitab suci, sehingga pengertian paling mendasar dari bahasa agama dengan pendekatan ini adalah bahasa kitab suci. Melalui antro-oriented, bahasa agama merupakan perilaku keagamaan dari seorang penganut agama. Pada pendekatan ini, lebih dipentingkan wujud wacana beragama atau wujud hidupnya agama dalam masyarakat sosial. Theo-oriented pada akhirnya juga mengarah kepada wacana keagamaan dengan penafsiran-penafsiran kitab suci yang lahir berikutnya, sehingga tampaklah batas yang samar antara kedua pendekatan tersebut. Sebagai jalan tengah, dibuatlah beberapa karakter dari bahasa agama: pertama, objek bahasa agama adalah metafisis, kedua, sebagai implikasinya materi pokok narasi keagamaan adalah kitab suci, dan ketiga, bahasa agama mencakup ekspresi keagamaan pemeluknya baik indivudual maupun sosial.
Akan tetapi, pada dasarnya bahasa agama merupakan bahasa manusia secara historis-antropologis, dan bahasa Tuhan yang transhistoris, secara teologis. Pemahaman ini berangkat dari keyakinan bahwa Tuhan merupakan objek yang abstrak, yang sama sekali keluar dari kemampuan pikiran manusia. Namun, untuk menggambarkan ketuhanan, atau menafsirkan bahasa kitab suci yang mengungkapkan ketuhanan, tidak dapat tidak menggunkakan ungkapan yang familiar dengan indra manusia.
Secara sederhana, terdapat dua kategori bahasa agama: preskriptif dan deskriptif. Pada kategori preskriptif, bahasa agama berwujud sebagai ungkapan persuasif yang tertuang dalam bentuk teks yang berisikan perintah dan larangan. Namun, sebagai petunjuk, sebuah kitab suci juga menungkapkan sesuatu dengan karakter deskriptif yang lebih bersifat demokratis dengan melibatkan manusia sebagai makhluk historis untuk mendiskusikan persoalan. Hal ini karena suatu petunjuk tersebut tidaklah mesti dengan perintah dan larangan semata. Oleh karenanya, pesan Tuhan dalam kitab suci kerap kali dituangkan dalam bentuk deskriptif dan meteforis, simbolik, dan ikonik. Bahasa yang metaforis memiliki potensi untuk pemahaman baru yang menjadikan kitab suci akan selalu eksis dalam setiap kondisi dan waktu. Namun, negatifnya juga dapat menimbulkan spekulasi dan relativisme pemahaman. Namun, gaya bahasa—apakah metaforis, simbolis, maupun ikonik—bukanlah aspek fundamental dalam kitab suci (al-Quran). Aspek yang palin penting padanya adalah ketegasan dan kejelasan maknanya, dan bunga-bunga pengungkapan tersebut hanyalah sebagian aspek saja.
Bahasa agama mendapatkan tantangan dari corak bahasa iptek. Bahasa iptek lebih bersifat deskriptif dan demokratis dan akibatnya dapat dirasaka secara langsung. Ia selalu menuntut presisi dan siap diuji kebenaran teorinya. Berbeda dengan agama yang masih berupa janji yang pemenuhannya setelah kematian. Dengan demikian, secara empiris proposisi dan teori ilmu pengetahuan lebih mudah diterima. pertumbuhan ilmu pengetahuan selalu mengasumsikan sikap rasional dan pendekatan empirikal. Tetapi akan mengakibatkan kekeringan pandangan hidup keagamaan karena pengalaman keberagamaan yang terdalam, yaitu pengelaman kehadiran Tuhan pada diri seseorang terwadahi dalam bahasa mistis yang di dalamnya penuh misteri dan metafor.
Bahasa primer sebuah agama adalah bahasa lisan. Dibuktikan dengan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad dan juga nabi-nabi sebelumnya adalah dalam bentuk lisan, bukan tulisan, sehingga pesan agama tersebut lebih terasa dan melekat di hati para rasul dan juga pengikutnya. Para linguistik ternama secara tidak langsung juga mendukung hal ini. Mereka menyatakan bahwa ujuaran atau pembicaraan lebih primer dari tulisan. Bahasa lisan memiliki kelebihan tersendiri. Pada suatu bahasa komunikasi (oral), terkumpullah beberapa aspek seperti psikologis, tempat, suasana, gaya, emosi, dan sebagainya. Ia memiliki kekuatan emosional untuk memlihara solidaritas antar sesama dan memelihara atmosfir keberagamaan yang hangat. Makanya, salah satu ciri bahasa agama terletak pada retorikanya yang mudah membangkitkan emosi.
Al-Quran mempunyai akuransi pembacaan dan penghafalan dan kuatnya mata rantai transmisi dari generasi Rasulullah hingga generasi selanjutnya, yang hal ini tidak dimiliki oleh kitab lainnya. Sebagai implikasinya, penekanannya akan lebih kuat pada hati dan kesadaran moral. Namun pada perjalanannya, akhirnya ia menjelma menjadi bahasa tulisan.
Bahasa lisan lebih efektif daripada bahasa tulisan, karena dengan bahasa tulisan aspek-aspek psikologis, tempat, suasana, gaya, emosi dan sebagainya tersebut lenyap. Hal ini juga akan mengakibatkan mudahnya terjadi penyelewengan maknanya dari makna aslinya. Implikasi konseptual lainnya adalah sebuah kitab suci dipandang sebagai sebuha bentuk fisikal dan visual yang tidak berbeda dengan buku-buku lainnya yang dicetak dan disusun di rak buku. Keberadaan dan kesuciannya tergantung kepada manusia yang meresponnya. Di samping itu, juga terjadi pergeseran relasi antara pembaca dan kitab suci. Pada awalnya, kitab suci diwahyukan kepada Nabi yang mana beliau adalah objek dan Tuhan sebagai objeknya. Namun berikutnya, di saat kitab suci telah menjadi bahasa tulisan/teks, ia berubah menjadi objek dan manusia yang meresponnya menjadi subjek. Hal inilah yang menjadikan kedudukan kitab suci tergantung kepada manusia yang meresponnya. Berarti, suatu kitab suci dianggap berharga dan memiliki nilai yang sangat tinggi bagi suatu umat, namun bagi umat lain mungkin saja itu hanyalah kumpulan dongeng belaka.
Minggu, 11 Januari 2009
URANG AWAK GADANG DI LADANG URANG
Mereka itu adalah tokoh-tokoh Minangkabau yang “gadang di ladang urang”. Di samping itu ada beberapa tokoh intelektual lainnya yang sempat mengecap pendidikan luar negeri dan menjadi tenaga pengajar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia. Tampaknya ini merupakan hasil dari petatah-petitih Minangkabau: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.
Berpijak kepada kata bijak tersebut, banyak pemuda Minangkabau yang di pergi “marantau ka nagari urang”. Mayoritas pemuda Minangkabau pergi merantau meninggalkan keluarga dan kampung halamannya dengan tujuan tertentu, dari usaha hingga studi. Betapa suatu nagari tidak lagi disibukkan oleh kegiatan generasi muda kecuali beberapa yang berumur sekolahan tingkat menengah. Setelah lulus dari SMA sederajat, mereka pergi merantau dengan bekal seadanya dan membawa harapan yang luar biasa.
Kecenderungan ini merupakan pendidikan yang luar biasa untuk pemuda Minangkabau. Dengan merantau mereka merasakan hidup yang sebenarnya. Mereka terlatih untuk menjadi terampil demi penghidupan yang layak. Perkembangan kemandirian mereka terlatih oleh hidup. Itulah tampaknya tujuan yang diinginkan pendahulu Minangkabau yang menyampaikan petuah seperti di atas.
Tidak jarang dari mereka yang menemukan nasibnya di rantau orang. Mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Begitu juga dengan pelajar, mereka mendapatkan banyak ilmu yang sangat berguna untuk masa depan mereka. Dan akhirnya, tidak jarang yang bersinar dan menjadi tokoh ternama.
Lantas, mengapa mereka yang tidak merantau biasa-biasa saja? Mengapa mereka tidak ikut bersinar dan berhasil seperti mereka yang merantau? Apakah nagari awak tidak bisa mendidik kemandirian dan kecakapan hidup seperti di luar sana? Apakah nagari awak tidak bisa melahirkan tokoh-tokoh besar, sehingga harus ke luar dulu untuk itu?
Pertanyaan di atas perlu kita renungkan. Kita lihat ketertinggalan Sumatera Barat dibandingkan provinsi-provonsi lain. Salah satunya disebabkan kekurangan kualitas SDM. Mengapa tidak, mereka yang berkualitas malahan berada dan hidup senang di luar sana, sementara yang tetap di kampung halaman tidak dapat berbuat banyak demi kemajuan bersama.
Agaknya, salah satu penyebabnya berasal dari watak orang Minang yang patang kalah. Di tanah rantau, watak demikian merangsang perkembangan mental menjadi survivor sejati yang siap melawan derasnya arus hidup. Namun, di kampung halaman, watak tersebut terkadang berakibat kepada tindakan iri dan pembunuhan karakter. Tanpa disadari seseorang yang merasa akan dilampaui oleh saudaranya, melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan kepada pembunuhan karakter. Perlakuan seperti ini bisa berbentuk cemoohan dari seseorang. Pada saat perkembangannya, lalu tiba-tiba orang lain datang dan mencemoohnya. Perlakuan ini diibaratkan seperti mamijak baniah. Sebuah benih yang harusnya berkembang, justru diinjak dan mati, sehingga tidak dapat lagi melanjutkan perkembangannya.
Perlu disadari bahwa pembunuhana karakter tersebut kerap kali terjadi di lingkungan masyarakat minangkabau. Pada ruang lingkup sekolahan, seperti dalam forum diskusi, seorang murid yang berpendapat cenderung mendapatkan tanggapan yang tidak baik dari temannya. Ia mendapatkan ejekan dan bahkan disoraki temannya dengan nada dengki dan menyudutkan. Di lingkungan keagamaan, para pemuka agama suatu nagari tidak memberikan kesempatan bagi pemuda yang mulai berkembang untuk mempraktekkan ilmu mereka di forum-forum ta’lim seperti ceramah atau khutbah Jumat. Hal ini memutuskan hubungan regenerasi keilmuan masyarakat. Akibatnya, saat seorang ulama suatu nagari meninggal, tidak ada lagi pemuda yang diharapkan bisa menjadi penggantinya. Dapat kita lihat suatu nagari yang tidak mempunyai orang yang mempu untuk khutbah Jumat dan penyelenggaraan jenazah. Begitu juga dari segi kehidupan lainnya.
Illustrasi di atas hanyalah sebuah contoh kecil. Pada kenyataannya, fenomena tersebut terjadi di seluruh lingkungan kehidupan dari kehidupan berkeluarga, hingga birokrasi ketatanegaraan.
Problem ini berpengaruh kepada lajunya perkembangan pembangunan Sumatera Barat. Rasa iri berkepanjangan dan pembunuhan karakter yang berketerusan menjadikan kualitas SDM Sumatera Barat stagnan. Akhirnya, tiada lagi yang bisa diharapkan menjadi panutan bagi masyarakat yang mampu menggerakkan roda pembangunan menuju kurva yang lebih tinggi. Sehingga, ranah Minangkabau akan tetap begini dan begini seterusnya tanpa merasakan aroma kemajuan. Bukankah ini tidak kita inginkan? Lantas akankah kondisi masyarakat seperti di atas kita biarkan?
Untuk itu, mari kita belajar untuk bersikap lebih dewasa. Kedewasaan akan menumbuhkan sikap sportif. Sportifitas akan melahirkan suasana kompetitif dalam segala bidang. Suasana kompetitif yang berkesinambungan akan terus dan terus meningkatkan kualitas mental dan moral manusia, sehingga lahirlah tokoh-tokoh besar dari kampung halaman kita sendiri, Minangkabau!!!
Kamis, 20 November 2008
Pagi: Optimis!!, Malam: Siap!!
Setiap hendak tidur, idealnya seorang membaca doa sebelum tidur yang lebih kurang berbunyi: “Bismika allahumma aḥya wa bismika amÅ«t”. Pada dasarnya, semua itu merupakan wujud dari penyerahan diri kepada Allah sang Penjaga manusia, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kita selalu berada di bawah lindungan Allah. Begitu juga di saat bangun di esok hari, hendaknya seseorang berdoa lagi yang lebih kurang berbunyi “Alhamdu lillahi allazi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihi an-nusyur”. Doa ini merupakan ungkapan syukur seorang hamba kepada Tuhannya (Allah swt) yang telah menjaganya di waktu tidur dari segala macam gangguan dan membangunkannya dengan selamat di waktu pagi.
Kedua doa ini bukanlah ungkapan penyerahan diri dan rasa syukur seorang hamba semata, lebih dari itu keduanya juga mempunyai suatu makna yang cukup luas. Sewaktu mau tidur, kalimat doa mengindikasikan pembicara (yang berdoa) dalam konteks individu. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan kata ‘ahya’ dan ‘amut’ yang merupakan fi’il mudhari’ (kata kerja yang berarti future atau continious dalam bahasa Inggris). Kata ini mengandung dhamir ‘ana’ sehingga memiliki arti ‘saya hidup’ dan ‘saya mati’. Maka, jika diterjemahkan secara keseluruhan, doa tersebut bermakna “Dengan nama Engkaulah ya Allah aku hidup dan dengan nama Engkau pulalah aku mati”. Doa ini memberikan penekanan pada kata ‘amut’ karena untuk menghadapi mati (atau tidur) itulah doa tersebut diucapkan. Sementara pada doa bangun tidur, dhamir ‘ana’ tersebut berubah menjadi ‘nahnu’ dan posisi pembicara (pendoa) berubah dari subjek menjadi objek. Hal ini terbukti dengan redaksi doa ‘ahyana’ dan ‘amatana’. Keduanya berarti ‘menghidupkan kami’ dan ‘mematikan kami’. Jika diterjemahkan secara keseluruhan akan berarti “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya lah tempat kembali”. Lantas, apa yang menjadi rahasia kedua doa ini? Perhatikan pembahasan berikut ini!
Lebih dari sekedar pengungkapan rasa syukur, doa bangun tidur merupakan ungkapan optimis seseorang yang konsisten untuk menjalani kehidupan sosial. Kata ‘ahyana’ mengindikasikan ketidakmampuan manusia untuk hidup sendiri. Perubahan posisi pendoa dari subjek menjadi objek mengindikasikan bahwa mereka butuh kepada sesuatu yang lain untuk menghidupkannya. Dan perubahan dhamir singular menjadi plural mengindikasikan manusia secara mutlak membutuhkan hubungan sosial. Ia hidup dalam lingkup sosial dalam tatanan yang kompleks. Ia tidak akan pernah mungkin bisa hidup tanpa adanya keterlibatan sistem-sistem lainnya yang berada di sekitarnya. Ia butuh makan, minum, kesehatan, kebahagiaan, dan semuanya tidak akan mungkin didapat kecuali dengan adanya hubungan sosial yang baik.
Sebagai konsekuensinya, setiap manusia harus memperhatikan nilai-nilai dalam menjalankan interaksi sosialnya. Ia harus pintar bersikap di tengah masyarakat sosial dengan tolok ukur norma dan nilai yang berlaku. Nilai dan norma tersebut bisa berasal dari agama, adat, kesopanan, maupun kesadaran kolektif yang menyatakan bahwa sesuatu pekerjaan itu baik dan yang lainnya buruk. Ia dituntut untuk menghindari setiap benturan yang sangat mungkin terjadi antara individu dan individu lainnya. Dengan itu, berarti ia telah berhasil membuktikan konsistensi dari ungkapan optimisnya di setiap bangun tidur.
Namun, status manusia sebagai makhluk sosial tersebut hilang saat ia mulai memasuki alam akhirat. Kata ‘amut’ dalam doa sebelum tidur tersebut tidak lagi bermakna plural, melainkan singular. Berarti, untuk menghadapi kematian dan alam-alam setelahnya, manusia berubah menjadi makhluk yang individual. Setiap manusia hanya sibuk dengan urusan pribadi mereka. Tiada lagi hubungan saling ketergantungan antar individu sebagaimana kehidupan dunia. Di samping itu, doa ini merupakan ikrar kesiapan manusia untuk menempuh kematian dan alam akhirat yang serba individual tersebut. Coba Anda perhatikan makna lugas dari doa tersebut, dengan lantang redaksinya berbunyi “Dengan nama Engkau pulalah aku mati”. Dengan pemaknaan yang sedikit cermat, doa tersebut berarti ungkapan pembicara (yang berdoa) mengenai kesiapannya untuk menempuh kematian. Bukankah orang yang dengan lantang menyatakan sesuatu berarti ia telah siap dengan segala konsekuensi dari ungkapannya itu?
Jadi, doa yang selama ini dibaca menjelang dan setelah tidur bukanlah hal yang sederhana. Lebih dari itu, keduanya mempunyai makna yang sangat mendalam. Bukan hanya sebagai permohonan perlindungan dan ungkapan rasa syukur semata, melainkan juga sebagai ungkapan optimis untuk hidup sebaik mungkin sekaligus ikrar kesiapan untuk menempuh kematian.
Wallahu a’lamu bi as-shawwabi!
PUASA: Seperti Angin?
Setiap makhluk hidup di bumi ini tidak terlepas dari elemen angin. Nelayan membutuhkan angin untuk pergi melaut. Sebagian pembangkit listrik juga menggunakan tenaga angin. Olahraga dirgantara juga tak mungkin terlepas dari yang satu ini, sebagaimana anak-anak juga merasa senang jika layangan mereka bisa melayang di udara dengan bebasnya karena jasa angin. Tumbuhan pun juga demikian. Beberapa tumbuhan membutuhkan hembusan angin untuk berfotosintesis. Singkatnya, semua kehidupan berjalan di muka bumi ini, tak terlepas dari pengaruh angin.
Angin adalah udara yang bergerak. Pergerakannya bermula dari kesenjangan suhu udara di suatu tempat dengan tempat yang lain. Dalam perjalanannya, angin membawa apa saja yang mampu diterbangkannya. Semakin besar tenaganya, semakin banyaklah benda yang diterbangkannya, mulai dari yang kecil dan ringan, hingga yang besar dan berat. Kita biasa melihat atau mendengar tentang angin topan yang mampu merontokkan pohon besar, merobohkan rumah, dan lain sebagainya. Alangkah besarnya tenaga angin tersebut.
Sebagian benda dapat diterbangkan angin hilir mudik dengan mudahnya. Katakanlah itu kapas. Dia tidak punya sedikit tenaga pun untuk melawan angin. Dia tidak melawan saat diterbangkan ke arah lumpur yang membuatnya kotor. Dia juga tak mampu berbuat apa-apa saat dibawa menuju api yang bisa membinasakannya.
Fenomena di atas dapat mewakili karakter manusia. Sebagian manusia hidup layaknya kapas. Mereka dengan mudahnya dibawa ke sana ke mari oleh pengaruh dari luar. Anak-anak cenderung berbondong-bondong bermain kelereng saat musim kelereng tiba. Setelah itu mereka sibuk dengan cerita, aksesoris dan semua hal yang berbau naruto, saat film atau komik naruto mendunia, sehingga mereka sama sekali melupakan kelereng yang menjadi hobi mereka sebelumnya. Begitu juga dengan remaja pecinta musik. Mereka sibuk dengan lagu new release yang sedang masuk top chart, dan melupakan lagu-lagu yang sebelumnya yang mereka sukai. Tidak jauh berbeda dengan mahasiswa yang uring-uringan ikut demonstrasi guna menyampaikan aspirasi mereka saat “angin musim” kenaikan harga BBM bergemuruh kencang. Begitulah contoh-contoh sederhana yang kerap kita saksikan.
Sekarang kita sedang dihadapkan dengan musim Ramadhan. Semua elemen masyarakat menyemarakkan datangnya bulan barokah ini. Dimana-mana kita melihat baliho, poster atau iklan bertuliskan “Marhaban ya Ramadhan”. Haflah akbar ini melibatkan banyak pihak. Umat muslim sudah barang tentu menjadi aktor utama. Bukti nyata dapat kita lihat di masjid-masjid. Pada saat Ramadhan, intensitas kegiatan di setiap masjid secara otomatis menjadi semakin padat daripada hari-hari biasanya. Setiap hari ada tarawihan, tadarrusan, ta`jilan, kuliah subuh, kuliah umum sebelum tarawih, dan lain sebagainya. Di samping itu juga ada berbagai perlombaan, seperti MTQ, puisi da’wah, tahfiz al-Quran, dan juga peringatan Nuzul al-Quran. Tidak menutup kemungkinan kaum non muslim pun juga ikut andil dengan menutup warung-warung makan atau restoran-restoran mereka di siang hari. Acara-acara televisi tidak mau ketinggalan. Mereka mulai menyetting acara sedemikain rupa yang mengikuti arah angin Ramadhan. Band-band papan atas yang biasanya menyuarakan syair-syair cinta, patah hati, PDKT, CLBK atau yang lainnya mulai bersenandung dengan syair-syair rohaniah atau Ramadhaniah yang menggugah. Pemerintah pun tidak mau ketinggalan peran. Mereka mulai mengkampanyekan anti maksiat, bulan penuh perdamaian dan jargon-jargon lainnya. Akan tetapi, timbul sebuah pertanyaan besar. Mengapa semua itu, dalam arti kata yang bukan ibadah khusus bulan Ramadhan, hanya terjadi pada bulan Ramadhan saja? Mengapa sebelum dan sesudahnya semua lupa shalat, Alquran, dan bahkan Allah?
Kenyataan ini semakin menguatkan bahwa manusia tidak ubahnya seperti “kapas yang diterbangkan angin”. Mereka hanya terlena dengan aroma indah angin Ramadhan yang menjajikan lailatu al-qadr yang lebih baik dari seribu bulan, pahala yang berlipat ganda, serta pengampunan dosa yang menggiurkan. angin Ramadhan yang berhembus dengan kencangnya membawa mereka terbang setinggi-tingginya menuju tempat yang sangat indah tak terperi. Mereka mulai mengikuti rutinitas kehidupan ideal seorang muslim hakiki. Mereka berbondong-bondong datang ke masjid. Shalat fardhu tepat waktu, rajin shadaqah, ditambah tarawihan, tadarusan, atau kegiatan-kegiatan lainnya. Tak satu ibadah pun luput dari mereka. Lantas seiring redanya angin Ramadhan, mereka mulai turun ke daratan. Mereka mulai meninggalkan masjid, lupa dengan al-Quran, bahkan shalat lima waktu pun sudah menjadi hal yang tabu. Untuk selanjutnya mereka hanya menunggu angin apa yang akan berhembus. Dan mereka akan mengikutinya seolah-olah pasrah dan tidak peduli kemana mereka diterbangkan.
Realita ini setidak-tidaknya mengindikasikan dua hal. Pertama bahwa muslim sekarang ini tidak lagi mempunyai pendirian. Mereka tidak lagi memegang prinsip-prinsip yang digariskan al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Mereka ke masjid hanya karena orang ramai di masjid dan puasa karena semua orang puasa. Mereka tidak lagi beramal berdasarkan keimanan mereka. Mereka hanya mengikuti setiap angin yang menerbangkan mereka. Kedua bahwa generasi penerus bangsa tidak lagi mempunyai filter untuk pengaruh-pengaruh yang tidak selamanya baik. Mereka tidak lagi memikirkan apa yang mereka kerjakan. Tanpa berfikir panjang, lantas mereka menerima semua pengaruh yang ada. Mereka menjadi pemuda yang konsumtif yang jauh dari kreatifitas dan tidak mempunyai prospek masa depan sama sekali.
Ternyata memang pantas keberadaan Islam semakin terpuruk di mata dunia. Musuh-musuh Islam telah mengetahui realita ini sebelum kita menyadarinya. Mereka telah menghembuskan angin-angin perpecahan, perusakan, dan adu domba ke hadapan umat muslim. Pemuda yang seharusnya menjadi ujung tombak tidak lagi mempunyai nyali. Tidak ada lagi pemberani seperti Abu Dzar al-Ghifari, si kuat Ali bin Abi Thalib, dan si cerdik Thariq bin Ziyad. Mental Soekarno, Hatta, Soutomo dan kawan-kawan sudah punah dari peredaran. Tak ayal lagi, kita lihat hasilnya sekarang. Terjadi perpecahan di mana-mana. Tampaknya mereka telah berhasil menerbangkan Islam dengan angin ciptaan mereka tersebut ke arah yang mereka kehendaki, yaitu arah yang berakhir pada kehancuran Islam.
Bagaimana dengan pribadi kita? Apakah kita juga seperti kapas yang diterbangkan angin? Tidak adakah keinginan kita untuk kembali berdiri tegak pada pendirian kita, melaksanakan semua ibadah dengan ikhlas, bukan berdasarkan hembusan angin lagi? Marilah kita mulai dari diri sendiri. Coba anda bayangkan, jika setiap muslim mulai menyadari hal ini, dan mulai bergerak untuk mengubahnya, maka kehidupan Islam yang sebenarnya berada di hadapan kita. Setiap perubahan kecil yang kita lakukan, akan menjadi sangat dahsyat dengan persatuan. Dan yang terpenting, tidak ada lagi kaum yang mampu menerbangkan Islam dengan angin-angin yang mereka ciptakan. Maukah anda?
KESALAHAN KAUM GEREJA
Sebagai contoh nyata, sebagaimana yang disampaikan oleh Harun Nasution mengenai pembagian fase-fase sejarah Islam, pada fase kemunduran (1700—1800 M), kekuasaan militer dan politik umat Islam menurun. Putusnya hubungan monopoli dagang antara Dunia Barat dan Timur menjatuhkan perdagangan dan ekonomi Islam. Hal ini juga berimbas kepada dunia Ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan saat itu mengalami stagnasi dengan menjamurnya tarikat yang penuh khurafat dan superstisi dan sifat fatalistis. Sementara itu, Eropa dan Dunia Barat lainnya semakin kaya dan maju. Penetrasi Barat, yang kekuatannya bertambah besar, kian lama bertambah mendalam. Hingga akhirnya kedatangan Napoleon Bonaparte ke Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting, menyadarkan umat Islam akan ketertinggalan mereka. Karena ketertinggalan tersebut Islam mendapatkan suatu ancaman.
Dalam buku yang berjudul “EINSTEIN MENCARI TUHAN”, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk diperhatikan. Semua orang tahu bahwa Einstein adalah seorang yang paling jenius pada abad XX. Albert Einstein adalah pemikir sejati yang sangat kreatif, yang namanya selalu dikaitkan dengan kemajuan sains dan teknologi, khususnya dalam bidang fisika, matematika, astronomi, dan astrofisika dengan teori efek photo listrik, kesetaraan energi dan massa, dan relativitas yang sangat rumit untuk difahami meski oleh ahli fisika sekalipun, telah banyak orang yang tahu. Namun tulisan ini tidak akan difokuskan lebih jauh pada hal tersebut. Ada beberapa bagian kecil dari buku tersebut yang cukup menarik untuk diperhatikan, beberapa fakta mengenai teori para ilmuan, gereja, dan Al-Kitab.
Fakta pertama, pada abad XVII, seorang ilmuan astronomi, Galileo Galilei, menemukan teori yang sangat menggemparkan kaum gereja. Mengapa tidak? Teori astronomis Al-Kitab mengenai bumi dan matahari yang menyatakan bahwa bumi itu datar dan matahari dan benda-benda langit lainnya berputar mengelilingi bumi ternyata bertolak belakang dengan penemuan Galileo Galilei. Dengan bantuan teropong bintang buatan ahli optik Belanda, Galileo Galilei menemukan bahwa ternyata bumi adalah bulat dan bumi serta planet-planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Teori ini lebih lanjut disebut dengan teori heliocentric. Teori heliocentric ini didukung oleh ahli astronomi asal Polandia, Nicolas Copernicus. Penentangan mereka terhadap teori Al-Kitab berakhir tragis. Keduanya dihukum mati oleh kaum gereja. Hingga akhirnya empat abad kemudian gereja baru mengakui kesalahannya tersebut. Dari sini, terlihat jelas bahwa gereja telah dengan sengaja menghambat dan membunuh pertumbuhan ilmu pengetahuan.
Kedua, para ilmuan Barat menyadari bahwa sains dan teknologi harus dipakai sebagai dasar untuk memahami Al-Kitab, sehingga apabila ada ayat-ayat yang tidak sesuai dengan logika berdasarkan kemajuan sains dan teknologi, mereka akan meragukan kebenaran ayat tersebut. Sebagai contoh atas masalah tersebut adalah salah satu ayat dalam Al-Kitab yang berbunyi : ”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudra raya, dan ruh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kitab Injil. Kejadian 1: 1-4). Timbul suatu pertanyaan dari para ilmuan astronomi, “Bagaimana ayat ini bisa menjawab teori kosmologi terbaru, big bang theory ?”
Pada tahun 1929, seorang fisikawan yang ahli astronomi, Edwin Hubble, mengemukakan teori bahwa langit terus berkembang atau berekspansi. Teori ini mendukung teori relativitas Einstein 13 tahun sebelumnya. Lebih detil lagi, Gamow dan Alpher menyatakan bahwa langit berekspansi karena adanya dentuman besar (big bang theory) yang merupakan awal mula terbentuknya semesta. Menurut Gamow dan Alpher, dentuman besar tersebut terjadi sekitar 10—20 triliun tahun yang lalu dan akibatnya masih terasa sampai sekarang berupa langit yang terus berekspansi.
Teori ini menimbulkan kegelisahan kaum gereja, sehingga untuk “memperbaiki citra” Kitab Injil agar sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan kosmologi, maka para pemuka Katolik membawa permasalah tersebut ke pertemuan ilmiah yang diadakan di Pontificial Academy of Science pada tahun 1951. Hal ini menimbulkan kegelian, apakah sebuah Al-Kitab harus disidangkan secara paripurna untuk membahas relevansinya terhadap kehidupan dan kemudian diamandemen dan diamandemen lagi layaknya UUD 1945 ? Semua orang tentu setuju bahwa sebuah kitab yang menjadi pedoman bagi agama seharusnya tidak begitu.
Ketiga, orang sekelas Einstein dibuat bingung oleh ayat-ayat dalam Al-Kitab. Einstein, sebagaimana dibahas sebelumnya, adalah seorang yang sangat ahli dalam bidang fisika, matematika, astronomi, dan astrofisika. Dialah yang dengan metode fisika kuantum mampu menembus daya fikir manusia abad XX, jauh melampaui kemampuan daya fikir para ahli di masanya, dan menemukan teori relativitas yang sangat spektakuler dan sulit difahami meskipun oleh ahli fisika sekalipun. Butuh 54 tahun untuk membuktikan teori ini. Tidak salah beribu pujian dialamatkan kepadanya. Namun Einstein yang juga disibukkan dengan mencari kebenaran agama dengan daya fikir yang sangat istimewa merasa kebingungan mencerna ayat-ayat yang ada dalam Al-Kitab. Dia tidak puas dengan agama orang tuanya, Yahudi, dan juga yang diterimanya di Volkschule, Nasrani. Sebagai contoh adalah beberapa ayat Al-Kitab yang bercorak antropomorphisme (mempersonalkan Tuhan). Coba lihat ayat berikut ini:
“Adukanlah istrimu, adukanlah sebab dia bukan istri-Ku, dan Aku ini bukanlah suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya dan zinanya dari antara buah dadanya, supaya jangan aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang...”(Kitab Injil. Hosea, 2: 1-2)
“Lalu berkata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebut Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul dengan melawan Allah dan manusia, dan engkau menang. (Kitab Injil. Yakub, 32:28
Einstein merasa malu bila menyimak ayat-ayat injil seperti tersebut di atas, bagaimana mungkin bisa Tuhan dipameri buah dada dan tidak mengakui istrinya, Tuhan kalah bergumul melawan manusia yang bernama Yakub. Begitu rendah Tuhan menurut Injil. Begitu juga dengan ayat-ayat lain yang lebih kurang menggambarkan Tuhan layaknya manusia dan Taurat yang menyatakan Tuhan mempunyai anak yang bernama Izr dan Uzair. Ia tidak menerima faham antropomorphisme yang mempersonalkan Tuhan. Teori Ilmiah Einstein yang bertekad mencari Tuhan secara ilmiah sebagai fungsi matematika menolaknya. Relativitas Einstein (E = m c2) menjadi embrio pencarian Tuhan, dan jika diterapkan dengan rumus energi grafitasi (- kGM2 / R) menghasilkan bahwa energi jagat raya sangatlah besar tak terhingga dan tak terbayangkan besarnya. Lantas dari manakah energi yang “super power” ini ? Meskipun tidak menemui Tuhan sebagai fungsi matematika dan mengakui Tuhan layaknya seorang muslim, Einstein menolak penggambaran Tuhan sebagaimana dalam Injil dan Taurat. Ia meyakini bahwa energi “super power” tersebut diciptakan oleh Zat yang “super power”, bukan seperti yang dikemukakan oleh Taurat dan Injil.
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa Al-Kitab memuat beberapa teori yang bertentangan dengan penemuan ilmiah kontemporer yang sudah dapat diterima secara mutlak seperti heliocentric theory. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Kitab tidak sepenuhnya lagi berasal dari zat yang “super power”, Tuhan. Hal ini terbukti dengan rahasia alam yang diciptakan oleh Tuhan ternyata berbeda dengan apa yang tertera dalam Al-Kitab. Kalau seandainya Al-Kitab itu secara murni berasal dari Tuhan, sangat tidak mungkin ayat-ayat di dalamnya bertentangan dengan rahasia-rahasia alam. Hal ini ternjadi karena adanya campur tangan manusia dalam mengubah Al-Kitab. Pengubahan terhadap Kitab Samawi oleh manusia adalah suatu kesalahan besar berimbas pada dampak yang tidak diinginkan. Belajar dari fakta tersebut, sebuah Kitab yang seharusnya dihormati, dimuliakan dan menjadi pedoman hidup justru ditentang oleh para ahli karena ketidaksesuaiannya dengan penemuan-penemuan kontemporer, karena justru seharusnya sebuah kitab suci mendukung kemajuan ilmu pengetahuan.